Popularitas dan Kredibilitas Media di Indonesia: Mana yang Lebih Layak Dipercaya?


Media memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena melalui media masyarakat memperoleh informasi mengenai politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, hingga berbagai peristiwa yang terjadi setiap hari. Perubahan teknologi membuat masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada surat kabar atau televisi. Berita kini dapat diperoleh melalui situs berita, aplikasi, YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga TikTok. Perubahan tersebut membuat jumlah informasi yang diterima masyarakat semakin besar, tetapi pada saat yang sama membuat persoalan baru semakin penting: media mana yang sebenarnya layak dipercaya? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika media yang paling populer ternyata belum tentu merupakan media yang paling dipercaya.

Salah satu sumber penelitian yang kuat untuk melihat pola konsumsi berita di Indonesia adalah Reuters Institute Digital News Report 2025 dari Reuters Institute for the Study of Journalism, University of Oxford. Penelitian tersebut dilakukan oleh YouGov melalui survei daring pada pertengahan Januari hingga akhir Februari 2025. Untuk Indonesia, penelitian melibatkan 2.028 responden. Sampel disusun menggunakan kuota berdasarkan usia, jenis kelamin, dan wilayah, kemudian data ditimbang agar sesuai dengan karakteristik populasi yang menjadi sasaran penelitian. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk Data ini penting karena memberikan gambaran empiris mengenai bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan dan menilai berbagai merek media berita.

Dalam penelitian tersebut terdapat istilah weekly news reach, yaitu persentase responden yang mengatakan bahwa mereka menggunakan suatu merek media untuk memperoleh berita setidaknya sekali dalam satu minggu terakhir. Ukuran ini perlu dipahami secara hati-hati karena bukan merupakan jumlah pengunjung unik berdasarkan data server, bukan pula pangsa pasar dan bukan ukuran berapa lama seseorang mengonsumsi media tersebut. Responden dapat menggunakan beberapa media sekaligus sehingga angka-angka tersebut tidak dapat dijumlahkan menjadi 100 persen. Dengan kata lain, weekly reach lebih tepat digunakan untuk melihat seberapa luas sebuah merek berita menjangkau masyarakat dalam satu minggu, bukan untuk menentukan kualitas jurnalistiknya. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk

Jika menggunakan ukuran popularitas tersebut, media digital yang menonjol di Indonesia pada 2025 adalah Detik.com. Sebanyak 46 persen responden mengatakan mereka menggunakan Detik.com untuk memperoleh berita dalam satu minggu terakhir. Di bawahnya terdapat Kompas online dengan 37 persen, sedangkan TVOne News online dan Tribunnews masing-masing mencapai 26 persen. CNN Indonesia online dan Metro TV News online berada pada angka 24 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa Detik.com mempunyai posisi yang sangat kuat dalam ekosistem berita digital Indonesia. Poder360 Dengan demikian, jika pertanyaannya hanya “media online mana yang paling populer?”, jawabannya relatif jelas: Detik.com.

Namun, popularitas tidak sama dengan kredibilitas. Justru ketika data weekly reach dibandingkan dengan data kepercayaan publik, muncul temuan yang lebih menarik. Dalam DNR 2025, Kompas memperoleh tingkat kepercayaan 62 persen, CNN Indonesia 61 persen, TVOne 60 persen, Detik.com 59 persen, dan SCTV atau Liputan6 juga 59 persen. Tempo berada pada 53 persen, sedangkan sejumlah media lain berada di bawah angka tersebut. Artinya, Detik.com yang mempunyai jangkauan online paling besar bukanlah media dengan skor kepercayaan tertinggi. Kompas, dengan tingkat kepercayaan 62 persen, berada di posisi teratas di antara merek yang masuk dalam daftar penelitian tersebut. Poder360

Temuan tersebut membuat saya berpendapat bahwa popularitas tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan kredibilitas media. Media yang paling sering digunakan masyarakat memang memiliki pengaruh yang besar, tetapi pengaruh tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh pemberitaannya lebih akurat, lebih berimbang, atau lebih independen dibandingkan media lain. Banyak faktor dapat membuat sebuah media populer, seperti kecepatan pemberitaan, kemudahan akses, jumlah artikel yang diproduksi, kemampuan mengikuti tren, optimasi mesin pencari, penggunaan media sosial, dan kemampuan menghasilkan judul yang menarik perhatian. Kredibilitas memiliki ukuran yang berbeda karena berkaitan dengan kepercayaan terhadap kualitas informasi yang diberikan.

Perbedaan antara popularitas dan kredibilitas juga terlihat jelas apabila kita membandingkan Detik.com dengan Kompas. Detik.com mempunyai weekly online reach sebesar 46 persen, sedangkan Kompas online sebesar 37 persen. Namun, tingkat kepercayaan terhadap Kompas mencapai 62 persen, sementara Detik.com sebesar 59 persen. Selisih tiga poin tersebut memang tidak cukup untuk menyatakan bahwa kualitas jurnalistik Kompas secara objektif pasti lebih baik daripada Detik.com. Reuters Institute sendiri menegaskan bahwa skor brand trust merupakan penilaian subjektif responden, bukan pengukuran objektif atas tingkat kebenaran atau kualitas jurnalistik suatu media. Poder360+1 Karena itu, kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa Kompas lebih dipercaya oleh responden dalam survei tersebut, bukan bahwa Kompas secara mutlak merupakan media paling benar di Indonesia.

Hal yang sama berlaku terhadap CNN Indonesia. Media tersebut mempunyai jangkauan online mingguan sebesar 24 persen, jauh di bawah Detik.com, tetapi memperoleh tingkat kepercayaan sebesar 61 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa media dengan audiens yang lebih kecil belum tentu memiliki kredibilitas yang lebih rendah. Sebaliknya, sebuah media dapat mempunyai jangkauan yang sangat luas tetapi tingkat kepercayaannya tidak menjadi yang tertinggi. Dengan demikian, masyarakat perlu memisahkan dua pertanyaan ketika memilih sumber berita: “Seberapa banyak orang menggunakan media ini?” dan “Seberapa dapat dipercaya informasi yang disampaikan media ini?” Kedua pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban yang selalu sama.

Menurut saya, salah satu alasan mengapa popularitas dan kredibilitas dapat berbeda adalah karena tujuan konsumsi berita masyarakat tidak selalu sama. Seseorang mungkin memilih Detik.com karena membutuhkan informasi terbaru dengan cepat. Orang lain mungkin membaca Kompas karena ingin mendapatkan berita yang dianggap lebih mendalam. Sementara itu, seseorang dapat menonton CNN Indonesia karena terbiasa memperoleh berita melalui televisi atau kanal digitalnya. Pilihan masyarakat terhadap media dipengaruhi oleh kebiasaan, kecepatan, kenyamanan, gaya penyampaian, topik, dan pengalaman pribadi. Oleh karena itu, sebuah media tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan seberapa sering masyarakat mengaksesnya.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena masyarakat Indonesia semakin bergantung pada media sosial untuk memperoleh berita. DNR 2025 menunjukkan bahwa 57 persen responden Indonesia mendapatkan berita melalui platform media sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan Instagram. TikTok juga meningkat sebagai sumber berita dan digunakan oleh 34 persen responden untuk memperoleh berita. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk Kondisi ini mengubah cara masyarakat menemukan informasi. Dahulu seseorang mungkin sengaja membuka koran atau situs berita tertentu, sedangkan sekarang berita sering muncul di hadapan pengguna melalui algoritma platform. Akibatnya, masyarakat terkadang mengetahui sebuah berita terlebih dahulu melalui potongan video, unggahan influencer, atau unggahan ulang sebelum mengetahui media yang pertama kali melaporkannya.

Perubahan tersebut dapat menimbulkan persoalan kredibilitas karena tidak semua informasi yang muncul di media sosial berasal dari organisasi jurnalistik yang menjalankan proses verifikasi. Reuters Institute dalam laporan globalnya menunjukkan bahwa perubahan menuju konsumsi berita melalui media sosial dan video telah memperkuat lingkungan informasi yang semakin terfragmentasi. Masyarakat tidak hanya menerima berita dari organisasi media, tetapi juga dari podcaster, YouTuber, TikToker, dan berbagai tokoh internet. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk Dalam konteks Indonesia, penelitian Reuters Institute juga mencatat bahwa banyak anak muda tertarik pada kreator yang menyampaikan berita dengan bahasa sederhana, menggabungkan politik dengan hiburan, atau menggunakan gaya komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk

Di sinilah kredibilitas media perlu dipahami secara lebih kritis. Kredibilitas bukan sekadar apakah sebuah berita terlihat profesional atau mempunyai banyak pengikut. Kredibilitas seharusnya berkaitan dengan proses bagaimana informasi tersebut diperoleh, diperiksa, dikonfirmasi, dan dikoreksi apabila terdapat kesalahan. Media yang kredibel idealnya mempunyai mekanisme editorial, wartawan yang bertanggung jawab, standar etik, sumber yang jelas, serta kesediaan melakukan koreksi. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat nama besar sebuah media. Pembaca juga perlu melihat bagaimana media tersebut bekerja ketika berhadapan dengan informasi yang belum pasti, konflik kepentingan, atau tekanan politik.

Dalam konteks Indonesia, pertanyaan tentang independensi media juga tidak dapat diabaikan. Reuters Institute telah mencatat sejak beberapa tahun terakhir bahwa lanskap media Indonesia dipengaruhi oleh perusahaan-perusahaan media besar dan kepemilikan oleh kelompok bisnis yang kuat. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan adanya kekhawatiran akademik mengenai konsentrasi kepemilikan media dan pengaruh kepentingan politik serta bisnis terhadap pemberitaan. Sebuah studi mengenai media digital Indonesia, misalnya, menyimpulkan bahwa konsentrasi kepemilikan dan hubungan antara elite bisnis-politik dapat berkontribusi terhadap bias pemberitaan dan polarisasi informasi. Jurnal Unesa Hal ini tidak berarti semua media milik kelompok besar pasti tidak kredibel, tetapi menunjukkan bahwa struktur kepemilikan merupakan salah satu faktor yang patut diperhatikan ketika menilai independensi media.

Kredibilitas media juga perlu dilihat dalam konteks kebebasan pers. Pada 2025, Reporters Without Borders atau RSF menempatkan Indonesia pada peringkat 127 dari 180 negara dalam World Press Freedom Index, dengan skor 44,13. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun Indonesia mempunyai ekosistem media yang beragam dan ratusan media independen, masih terdapat berbagai tantangan terhadap kebebasan dan independensi pers. RSF Kebebasan pers memang tidak sama dengan kredibilitas media, tetapi keduanya berhubungan. Media membutuhkan ruang yang cukup bebas untuk melakukan investigasi, mengkritik pemerintah, memeriksa kebijakan publik, dan mengungkap kepentingan yang mungkin tersembunyi di balik sebuah peristiwa.

Menariknya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia pada DNR 2025 hanya mencapai 36 persen. Artinya, meskipun terdapat media tertentu yang memperoleh tingkat kepercayaan di atas 60 persen, secara umum hanya sekitar sepertiga responden yang mengatakan bahwa mereka mempercayai sebagian besar berita pada umumnya. reutersinstitute.politics.ox.ac.uk Fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya tidak memberikan kepercayaan yang sangat tinggi kepada lingkungan berita secara keseluruhan. Rendahnya kepercayaan umum tersebut dapat berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi informasi yang saling bertentangan, berita yang dianggap bias, misinformasi, judul sensasional, serta semakin kaburnya batas antara berita profesional dan konten informasi di media sosial.

Karena itu, saya tidak akan mengatakan bahwa satu media dapat dinyatakan “paling kredibel” secara mutlak hanya berdasarkan satu survei. Jika menggunakan DNR 2025 sebagai dasar, Kompas dapat disebut sebagai merek dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi di antara merek yang ditanyakan dalam survei, dengan skor 62 persen. Namun, kesimpulan tersebut harus diberi batasan. Reuters Institute sendiri mengingatkan bahwa daftar tersebut tidak mencakup seluruh media di Indonesia dan skor kepercayaan merupakan persepsi publik, bukan pengujian objektif terhadap akurasi setiap berita. Poder360 Dengan demikian, lebih tepat mengatakan bahwa Kompas memiliki tingkat kepercayaan publik tertinggi dalam survei DNR 2025 di antara merek yang diuji, bukan bahwa seluruh pemberitaannya pasti paling benar.

Pendapat tersebut semakin kuat apabila kita menggabungkan data Reuters Institute dengan data kelembagaan pers di Indonesia. Dewan Pers menggunakan proses verifikasi untuk menilai perusahaan pers, dan sepanjang 2024 melakukan verifikasi faktual terhadap 321 media, dengan 192 media atau sekitar 60 persen dinyatakan lolos verifikasi faktual. Pada saat yang sama, Dewan Pers menerima 678 pengaduan pemberitaan selama 2024 dan menyelesaikan 631 kasus atau 93,07 persen di antaranya. Dewan Pers Data ini menunjukkan bahwa kredibilitas media tidak hanya menjadi persoalan persepsi publik, tetapi juga berkaitan dengan tata kelola perusahaan pers, profesionalisme wartawan, dan mekanisme penyelesaian pengaduan. Karena itu, pembaca memiliki alasan untuk mempertimbangkan apakah sebuah media mempunyai identitas perusahaan yang jelas, menjalankan prinsip jurnalistik, serta dapat dimintai pertanggungjawaban ketika melakukan kesalahan.

Berdasarkan seluruh data tersebut, saya berpendapat bahwa cara terbaik memilih media bukanlah mencari satu media yang harus dipercaya untuk semua persoalan, melainkan membangun kebiasaan membaca secara kritis. Untuk berita cepat, masyarakat dapat menggunakan media dengan jangkauan luas seperti Detik.com, tetapi untuk isu penting sebaiknya informasi dibandingkan dengan media lain. Untuk persoalan politik, kebijakan publik, atau kontroversi, pembaca sebaiknya tidak berhenti pada satu berita karena sudut pandang dan pemilihan narasumber dapat memengaruhi cara sebuah peristiwa dipahami. Bahkan media yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi pun tetap harus diperiksa karena kredibilitas bukan berarti bebas dari kesalahan.

Pada akhirnya, data DNR 2025 memberikan pelajaran penting bahwa media paling populer dan media paling dipercaya bukanlah hal yang sama. Detik.com menjadi media online dengan weekly news reach tertinggi sebesar 46 persen, tetapi Kompas memperoleh tingkat kepercayaan tertinggi sebesar 62 persen di antara merek yang diteliti. CNN Indonesia mencapai 61 persen, TVOne 60 persen, sedangkan Detik.com dan Liputan6 masing-masing 59 persen. Poder360 Perbedaan tersebut membuktikan bahwa popularitas lebih tepat dipahami sebagai ukuran jangkauan, sedangkan kredibilitas berkaitan dengan persepsi kepercayaan terhadap suatu merek. Keduanya penting, tetapi keduanya mengukur sesuatu yang berbeda.

Dengan demikian, pertanyaan “media mana yang paling kredibel di Indonesia?” seharusnya tidak dijawab secara sederhana dengan menyebut satu nama. Berdasarkan DNR 2025, Kompas merupakan kandidat terkuat jika kredibilitas didefinisikan berdasarkan tingkat kepercayaan publik terhadap merek media yang diuji, sementara Detik.com merupakan pemimpin jika ukuran yang digunakan adalah jangkauan berita online mingguan. Namun, kredibilitas yang sesungguhnya tidak seharusnya berhenti pada angka survei. Media yang benar-benar layak dipercaya adalah media yang konsisten melakukan verifikasi, transparan mengenai sumber informasi, mampu mengoreksi kesalahan, menjaga standar etik, dan tetap berusaha independen dari tekanan politik maupun kepentingan bisnis. Pada akhirnya, tanggung jawab terhadap kualitas informasi bukan hanya berada di tangan media, tetapi juga pada pembaca. Masyarakat yang kritis tidak bertanya hanya “media mana yang paling populer?”, melainkan juga “dari mana informasi ini berasal, bagaimana informasi ini diverifikasi, siapa yang diuntungkan dari pemberitaan ini, dan apakah sumber lain memberikan gambaran yang sama?”. Sikap semacam inilah yang pada akhirnya lebih penting daripada sekadar memilih satu merek media untuk dipercaya.