Arif Subandi adalah penulis, penyair, penyiar radio, dan pegiat literasi asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, sekitar 30 tahun lalu, ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara dalam keluarga keturunan Jawa yang mengikuti program transmigrasi pada era 1990-an.
Masa kecil Arif diwarnai kehilangan sosok ayah. Ayahnya, Sukarlan, meninggal dunia ketika usianya baru menginjak dua tahun. Setelah itu, sang ibu memutuskan kembali ke Banyuwangi untuk membesarkan seluruh anak-anaknya. Dari sosok ibu yang dikenal tegas sekaligus penuh kasih sayang, Arif belajar tentang pentingnya etika, kesederhanaan, kerja keras, dan penghormatan kepada sesama—nilai-nilai yang kemudian banyak mewarnai karya-karyanya.
Ketertarikannya pada dunia kepenulisan tumbuh sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Menulis menjadi ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan secara lisan. Semasa kecil ia dikenal sebagai pribadi yang pendiam. Namun, pengalaman bekerja sebagai sales marketing mengubah kemampuannya dalam berkomunikasi. Interaksi dengan berbagai kalangan membentuk kepercayaan diri serta memperkaya sudut pandangnya, yang kemudian menjadi bekal dalam dunia penyiaran, organisasi, maupun kepenulisan.
Dalam proses kreatifnya, Arif menjadikan puisi sebagai medium untuk merekam kegelisahan, harapan, dan refleksi kehidupan. Tema-tema yang diangkat tidak hanya berkisar pada cinta, tetapi juga menyentuh persoalan keluarga, spiritualitas, kemanusiaan, pekerjaan, masa depan, kritik sosial, hingga nilai-nilai kehidupan. Baginya, puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cara memahami diri sendiri sekaligus menjalin dialog dengan pembaca.
Hingga kini, Arif telah berkontribusi dalam sejumlah buku antologi puisi, antara lain Tentang Ibu, Menyemai Kenangan, Sajak Untuk Diri, Cerita Tentang Dia, Doa Untuk Palestina, Merapal Makna, dan Selaksa Pesona Rasa. Pada Juli 2024, ia menerbitkan buku puisi solo pertamanya berjudul Goresan Arif Bagian 1. Selanjutnya, pada Januari 2026, ia merilis buku puisi kedua Harusnya Kita Bicara (Goresan Arif Bagian 2) yang mengeksplorasi tema komunikasi, kehilangan, dan hubungan antarmanusia dengan pendekatan yang lebih matang.
Selain aktif menulis, Arif juga dikenal sebagai penyiar radio dengan pengalaman di berbagai stasiun radio di Banyuwangi, Bali, dan Kalimantan Selatan. Baginya, dunia penyiaran dan kepenulisan saling melengkapi. Radio mengajarkannya memahami beragam karakter manusia, sementara menulis memberinya ruang untuk mengolah pengalaman menjadi karya yang dapat dinikmati banyak orang.
Melalui media sosial, Arif terus membagikan karya, proses kreatif, serta aktivitas literasi kepada masyarakat. Ia meyakini bahwa membaca dan menulis merupakan bagian penting dalam membangun budaya berpikir kritis dan memperkuat karakter generasi muda.
Media Sosial
Instagram: @goresanarif
TikTok: @goresanarif
YouTube: @goresanarif
Filosofi Menulis
"Bagi saya, puisi adalah ruang untuk menyampaikan hal-hal yang tidak selalu bisa diucapkan. Puisi menjadi tempat bertemunya kegelisahan, harapan, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui puisi, saya ingin mengajak pembaca berhenti sejenak, merenung, lalu menemukan makna dalam setiap perjalanan hidup."
