Jika Suatu Hari Saya Telah Tiada

Jika suatu hari nanti saya telah tiada, biarlah karya-karya saya tetap hidup. Biarlah puisi, esai, kutipan, kata-kata, suara, foto, video, maupun segala bentuk karya yang pernah saya lahirkan terus menemukan pembacanya, pendengarnya, dan tempatnya di tengah zaman yang terus berubah.


Saya tidak pernah berharap karya-karya tersebut berhenti hanya karena kehidupan saya telah selesai. Justru saya ingin kata-kata yang pernah saya tuliskan tetap berjalan, melewati waktu, menemukan orang-orang yang mungkin bahkan tidak pernah mengenal siapa saya, tetapi pernah menemukan sesuatu dari karya yang saya tinggalkan.


Namun, ada satu hal yang ingin saya titipkan dengan sungguh-sungguh kepada siapa pun yang kelak menemukan karya-karya saya: tolong hormati karya tersebut sebagaimana Anda menghormati orang yang telah melahirkannya. Jangan menganggap bahwa karena penciptanya sudah tiada, maka segala sesuatu yang ditinggalkannya menjadi bebas untuk diperlakukan sesuka hati.


Karya bukan sekadar kumpulan huruf, gambar, suara, atau rekaman yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa pertimbangan. Di balik sebuah karya terdapat waktu, pikiran, perasaan, pengalaman, kegelisahan, bahkan bagian dari kehidupan seseorang yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang lain.


Karena itu, meskipun yang diambil hanya satu bait puisi, satu paragraf tulisan, satu kutipan, beberapa detik suara, sebuah foto, atau bagian kecil dari sebuah video, tetaplah itu merupakan bagian dari karya saya. Kecilnya bagian yang diambil tidak serta-merta membuatnya kehilangan nilai maupun hak yang melekat padanya.


Terlebih apabila bagian tersebut kemudian disebarkan kepada banyak orang, dimasukkan ke dalam konten, diterbitkan kembali, digunakan untuk kepentingan komersial, dimonetisasi, dijual, atau dimanfaatkan untuk menghasilkan uang tanpa izin dan tanpa penghargaan kepada ahli waris saya. Bagi saya, persoalannya bukan lagi tentang seberapa sedikit bagian yang diambil, tetapi tentang seberapa jauh seseorang menghormati penciptanya.


Jika hanya satu bait yang diambil tanpa izin, lalu disebarkan hingga menghasilkan uang, bagi saya itu pun sudah cukup untuk disebut sebagai bentuk ketidakmenghormatan terhadap saya sebagai penulis. Sebab yang diambil bukan hanya beberapa baris kata, tetapi bagian dari sesuatu yang pernah saya lahirkan dengan pikiran dan kehidupan saya sendiri.


Saya tidak ingin kematian saya dijadikan alasan bagi siapa pun untuk merasa lebih leluasa terhadap karya-karya yang saya tinggalkan. Jangan berpikir bahwa karena saya sudah tidak dapat berbicara, tidak dapat mengirim pesan, tidak dapat mengajukan keberatan, dan tidak dapat berdiri untuk membela karya saya, maka karya tersebut boleh diperlakukan tanpa batas.


Justru ketika seorang penulis telah tiada, seharusnya penghormatan terhadap karya yang ditinggalkannya menjadi semakin penting. Sebab ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan maksudnya, memberikan izin secara langsung, ataupun mengatakan bahwa dirinya keberatan terhadap sesuatu yang dilakukan terhadap karya tersebut.


Oleh karena itu, apabila suatu hari nanti seseorang ingin menggunakan karya saya, mintalah izin kepada pihak yang menjadi ahli waris saya. Jika ingin menerbitkannya, bicarakan dengan mereka. Jika ingin menggandakannya atau menyebarkannya untuk kepentingan tertentu, lakukan dengan cara yang semestinya. Dan jika karya tersebut menghasilkan nilai ekonomi, jangan lupakan hak yang seharusnya diberikan kepada keluarga yang saya tinggalkan.


Saya tidak sedang meminta agar karya saya diperlakukan secara istimewa. Saya hanya meminta agar ia diperlakukan dengan adil. Saya tidak ingin karya saya menjadi sesuatu yang tidak boleh disentuh siapa pun. Sebaliknya, saya ingin karya-karya itu terus hidup dan memberi manfaat, tetapi dengan cara yang tidak menghilangkan penghormatan terhadap penciptanya.


Kepada siapa pun yang kelak merasa bahwa mengambil karya orang lain tanpa izin adalah hal kecil, saya hanya ingin mengatakan: jangan ukur kesalahan dari kecilnya sesuatu yang Anda ambil. Kadang-kadang yang terlihat hanya satu bait, tetapi di balik satu bait itu mungkin ada bertahun-tahun perjalanan hidup seorang penulis.


Dan jika setelah membaca pernyataan ini masih ada yang sengaja mengambil karya saya, menyebarkannya, menggunakannya untuk kepentingan pribadi, atau memperoleh keuntungan darinya tanpa izin ahli waris saya, maka saya ingin meninggalkan peringatan yang lebih keras: jangan semena-mena hanya karena saya sudah tidak ada.


Saya bahkan ingin menjadikan hal itu sebagai sebuah pertanggungjawaban moral yang sangat berat. Jika karya saya diambil dan dimanfaatkan dengan sengaja tanpa izin, maka biarlah seluruh dosa yang menjadi tanggung jawab atas perbuatan tersebut menjadi beban orang yang melakukannya. Anggaplah itu sebagai “bayaran” yang jauh lebih mahal daripada uang yang mungkin diperolehnya dari karya saya.


Saya tidak menuliskan ini untuk mengutuk siapa pun. Saya juga tidak ingin kematian menjadi alasan untuk menebarkan kebencian. Kalimat tersebut saya tuliskan sebagai peringatan agar siapa pun yang membaca memahami bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya bukanlah perkara sepele, terlebih ketika yang diambil adalah bagian dari kehidupan dan karya seseorang yang telah tiada.


Sebab uang dapat dihitung, royalti dapat dicatat, dan honorarium dapat dibayarkan. Tetapi penghormatan terhadap sesama manusia seharusnya lahir dari kesadaran sebelum semuanya menjadi persoalan. Jangan sampai keuntungan yang diperoleh dari sebuah karya justru meninggalkan beban moral yang jauh lebih besar daripada nilai keuntungan itu sendiri.


Saya ingin keluarga saya kelak tidak hanya menerima nama yang saya tinggalkan, tetapi juga menerima manfaat yang semestinya dari karya-karya tersebut. Bagi saya, karya adalah salah satu bentuk warisan yang dapat saya berikan kepada mereka. Karena itu, siapa pun yang memanfaatkannya hendaknya memahami bahwa di balik karya tersebut ada hak dan penghormatan yang juga harus dijaga.


Pada akhirnya, saya tidak meminta dunia untuk mengingat saya selamanya. Saya hanya ingin apa yang saya tinggalkan diperlakukan dengan semestinya. Biarlah karya saya dibaca, didengar, dibagikan, dikenal, dan bahkan menemukan kehidupan baru di tangan generasi setelah saya, tetapi jangan pernah menjadikan ketiadaan saya sebagai alasan untuk mengambilnya dengan semena-mena.


Karena seorang penulis mungkin suatu hari akan berhenti bernapas, berhenti berbicara, dan berhenti menulis. Tetapi karya yang telah dilahirkannya dapat terus hidup jauh setelah ia pergi. Kematian mungkin mengakhiri perjalanan seorang penulis, tetapi tidak seharusnya menjadi akhir dari penghormatan terhadap karya dan hak yang ia tinggalkan.




Jawa Tengah, 17 September 2026
Arif Subandi / Goresan Arif